EKSPEDISI KAPAL BOROBUDUR JALUR KAYU MANIS Penulis & Gambar: Yusi Avianto Pareanom, Bondan Winarno, Dhian Prasetya, Penerbit: Banana Publishing, 2007 (48 halaman)

ekspedisi-borobudur

Pertama-tama: iya, penggambar komik ini namanya Bondan Winarno. Tapi, ia bukan Bondan Winarno yang itu. Nanti kita bahas soal Bondan ini.

Ekspedisi Kapal Borobudur Jalur Kayu Manis diniatkan sebagai sebuah novel grafis bergaya Eropa (seperti yang kita sempat baca terjemahan mereka pada 1980-an) dalam hal format dan warna. Dicetak dengan hard cover. Ini saja sudah sebuah keberanian yang saya beri tabik hormat. Dalam keadaan penerbitan komik Indonesia yang selalu di tubir jurang kebangkrutan, itu sebuah langkah berani.

Toh, tanpa mengurangi rasa hormat itu, saya perlu bicara kekurangan-kekurangannya. Yang paling terasa, naskah. Komik ini masih terlalu prosaik. Dibuka dengan dengan dua halaman pertama keterangan latar historis Ekspedisi Kapal Borobudur, komik ini seperti terkungkung dalam perangkap prosa yang tak memberdayakan gramatika komik. Walau informasi yang diungkap sejak halaman keterangan hingga halaman terakhir sangat menarik, tapi sebagai komik naratifnya kurang berjalan.

Naratif komik ini bertumpu sepenuhnya pada teks dalam caption. Terasa sekali bahwa dialog-dialog yang ditulis dalam balon-balon kata/pikiran lebih sering jadi pelengkap-penghias belaka, bukan kendaraan naratif. Padahal, banyak hal dalam caption (yang toh bercerita juga) bisa diterjemahkan menjadi adegan dan percakapan yang hidup. Misalnya, proses pembuatan Kapal Borobudur dengan segala kesulitannya dan kesenangan Pak As’ad Abdullah membuatnya di pulau Pagerungan.

Di beberapa tempat, balon kata hanya jadi wadah ucapan dan humor yang tak perlu. Dialog macam adegan Phillip Beale bercakap dengan Nick Burningham, misalnya, yang hanya berisi: ”Bikinin yang bagus, ya?” dan ”Yoi, coy!” –percakapan ini mencerminkan pemahaman yang masih sangat sederhana mengenai kapasitas naratif komik.

Coba bandingkan dengan insiden BAB (Buang Air Besar) pertama kali di kapal, pada halaman 13. Di situ, cerita ditutur dalam sekuens gambar dan teks. Mengapa untuk insiden humor bisa diupayakan penggunaan bahasa komik, tapi untuk hal-hal yang lebih ”serius”, bahasa komik itu seperti kurang dipercaya?

Bahasa komik tentu saja bukan sekadar masalah apakah sebuah komik digambar dengan gaya tertentu. Bahasa komik mencakup bagaimana sebuah cerita bisa diterjemah ke dalam serangkaian panel yang efektif, dengan masing-masing panel berisi adegan dan teks (jika dirasa perlu) yang efektif atau punya daya kesan yang kuat.

Soal gambar, komik ini patut dicatat. Bondan Winarno yang jadi penggambar utama di komik ini tentu saja bukan Bondan ”Mak Nyos” Winarno yang pakar kuliner dan manajemen itu. Bondan komikus adalah seorang yang diam-diam telah lama berkiprah di dunia ilustrasi dan komik Indonesia, terutama pada masa 2000-an. Pijakan utama Bondan adalah seorang ilustrator. Tapi, ia juga terlibat dalam pembuatan komik-komik pendidikan dan penerangan seperti yang diterbitkan oleh majalah Quark dan oleh Departemen Kesehatan atau LSM-LSM.

Teman saya, Benito Lopulalan (yang cukup karib dengan dunia seni rupa Indonesia), menarik perhatian saya pada kelompok ”ilustrator Semarang”, yang salah satunya –kalau saya tak salah ingat kata Beni– adalah Bondan ini. Bondan dan teman-temannya, yang adalah penerus kelompok ilustrator/kartunis asal Semarang, yang pindah ke Jakarta dan bekerja di media-media massa seperti majalah Bobo dan lain-lain.

Apakah muasal mereka yang dari Semarang itu ada hubungannya dengan sebuah komunitas kartunis di sebuah perkampungan di Semarang, yakni komunitas Kokang? Komunitas ini pernah merajai dunia kartun media di Indonesia pada 1990-an. Lebih penting lagi, banyak eksponen Kokang yang bolak-balik menang di perlombaan kartun internasional di Asia, Eropa, dan Amerika.

Menurut Beni, para ilustrator/kartunis asal Semarang itu diam-diam memberi warna pada dunia ilustrasi di media-media Indonesia belakangan ini. Lalu, warna apakah yang ditawarkan oleh Bondan melalui komik ini?

Tampak komik yang digambar Bondan dan Dhian ini menyimpan potensi visual yang sangat menarik. Ketika Bondan dan Dhian memvisualkan adegan badai di halaman 34-35, misalnya, terasa getar itu ada. Walau, dari segi naratif komik, sekali lagi, adegan bisa lebih “ngomik” lagi, tapi yang ada pun cukup menggetarkan. Komposisi dalam setiap panel cukup segar, termasuk angle-angle gambar. Dengan kata lain, kepekaan para penggambar sebagai ilustrator tampak kuat sekali. Kepekaan ini juga tampak dalam pallete warna yang digarap dengan komputer ini.

Tapi, potensi ini belum penuh. Komik adalah medium cerita. Bahkan komik-komik avant garde atau eksperimental pun hakikatnya bercerita juga –hanya saja mereka membongkar pengertian lazim tentang ”cerita”. Komik adalah gambar bercerita, bukan cerita bergambar. Dalam ”cerita bergambar”, gambar hanya jadi pelengkap cerita, ilustrasi, dan bukan naratif itu sendiri. Kepekaan ilustrasi bisa menyegarkan, bisa juga memberangus kapasitas naratif komik.

Jika para komikus komik ini, atau komikus Indonesia lainnya, ingin menapak jalan clear line untuk komik Indonesia, mereka harus membaca lagi, dan membaca lagi, dan membaca lagi, seri Tintin dan para ”turunan”-nya seperti karya-karya Edgar P. Jacobs, Jacues Martin, Bob De Moor, Roger Leloup, Peter Van Dongen, dan sebagainya. Membaca, dan membaca lagi, mengira-ngira apa yang membuat komik mereka ”jadi” sebagai komik? ***

hal-ekspe2

Iklan

eight-balls-18-01b

EIGHTBALL No. 18, by Dan Clowes, Fantagraphic Publishing, 28 p.

 

Komik ini punya nilai sentimental tinggi buat saya. Eightball no. 18 dan no. 17 adalah awal perkenalan saya dengan karya-karya Dan Clowes. Keduanya telah hilang. Saya terutama paling kehilangan yang nomor 18 ini, karena ada bonus sisipan esai tentang komik yang digambar dan ditulis tangan oleh Clowes, berjudul Modern Cartoonist. Bukan hanya ide dari esai itu yang buat saya menarik, tapi pengumuman yang ditulis oleh Clowes dalam halaman masthead edisi ini bahwa pamflet ini hanya disisipkan pada sebagian edisi saja. Untunglah, kemudian saya menemukan kembali edisi no. 18, dan Alhamdulillah ada pamfletnya juga!

Yang membuat saya kepincut Clowes adalah kedua edisi ini, 99% isi buku ini dikerjakan dengan tangan. Mulai gambar sampul dan pewarnaannya (teknik cat poster), semua font di sampul mau pun di dalam –termasuk halaman iklan dan surat pembaca! Ini adalah sebuah antidote di zaman seniman grafis dan komikus berbondong-bondong cari gampang berkarya dengan bergantung pada komputer. Dari sini, saya membaca bahwa Clowes adalah seorang seniman yang obsesif, telaten, dan penuh disiplin. Memang, kalau kita lihat karya-karyanya dalam periode ini (1997), tampak Clowes makin menerapkan teknik guratan garis penuh pengekangan diri dan bergaya ilustrasi/kartun Amerika klasik.

screen-shot-2016-09-10-at-11-12-02-pm

Apalagi seperti terbaca dalam pamfletnya, gagasan estetik Clowes adalah komik sebagai pesona rangkaian gambar still life. Dalam gagasan estetik ini, komposisi dan suasana (mood) menjadi pertimbangan utama dalam setiap panel. Dengan gagasan ini pula, cerita-cerita Dan Clowes dalam periode ini cenderung impresionistik. Suasana yang diangkat cerita-ceritanya biasanya angst anak muda zaman kiwari yang serba tertekan dan kehilangan tujuan hidup justru dalam lingkungan serba berkecukupan. Dengan kata lain, agak nihilistik.

screen-shot-2016-09-10-at-11-13-47-pm

Eightball adalah antologi komik karya Clowes yang mulanya diniatkan terbit dalam periode tertentu (bulanan, kalau menurut pakem penerbitan komik Amerika Serikat). Pada nomor-nomor awal, Clowes lebih ekspresif dalam gambar maupun cerita-ceritanya. Tapi sudah tampak kecenderungannya pada tradisi ilustrasi dan kartun klasik Amerika seperti yang dimapankan oleh majalah The New Yorker. Dalam nomor 18 ini, ada dua cerita: bagian terakhir cerbung Ghost World (yang kemudian dibukukan, dan difilmkan); dan sebuah cerita superhero posmodernis yang hemat saya adalah salah satu kisah superhero terbaik sepanjang masa, Black Nylon.

Ghost World terasa luarbiasa karena kemampuannya menangkap suasana batin dan suasana pikiran kaum muda Amerika yang serba menthog di sebuah kota kecil yang nyaris stagnan –sebuah produk kemakmuran masa lalu yang tak berkembang lagi. Keberhasilan penggambaran suasana batin dan pikiran ini justru melalui penggambaran suasana dan dialog keseharian yang lepas-lepas dan tak terstruktur, spontan dan nglantur, persis seperti keadaan dalam hidup sesungguhnya.

Black Nylon, sama impresifnya, dengan nihilisme yang lebih tegas. Clowes merenggut pakem superhero, dan membongkarnya menjadi sebuah lukisan kemurungan yang menyiksa pembaca. Dunia moralistik (sesuatu yang terasosiasikan dengan komik-komik superhero Amerika sejak 1940-an hingga 1960-an, saat yang benar dan yang salah jelas belaka) telah hancur, dan orang-orang menjadi pion-pion situasi yang tak sepenuhnya bisa dipahami.

screen-shot-2016-09-10-at-11-21-13-pm

Di akhir kisah, sang tokoh utama berkata, “So here I am today, all fixed up with these new infra-red goggles and a mechanical hand that could crush a man’s skull like a beer can, and all I really want to do is disappear…. I wish I could just erase myself from the background and let someone else figure it all out….

Karya-karya Clowes dikumpulkan dalam beberapa buku antologi tebal. Karya-karya pendeknya di periode ini, macam Black Nylon dan Gynecology (ada dalam Eightball no. 17), terkumpul dalam antologi Carricature. Karya-karya ini menampakkan kematangan Clowes baik dari segi olah garis dan komposisi panel serta pengadeganan cerita, mau pun dari segi tema dan ide-idenya yang pada dasarnya serba murung itu. *** 

screen-shot-2016-09-10-at-11-11-16-pm

eight-ball-18-21

eight-ball-18-26

screen-shot-2016-09-10-at-11-16-42-pm

 

[#ARSIP: Tulisan ini saya buat di zaman Multiply dulu. Sewaktu persoalan hukum yang membelit seri ini masih ruwet. Saat ini, persoalan hukumnya sudah selesai –Penerbit Marvel Comics yang menang, dan menerbitkan ulang seri ini. Tapi, Alan Moore yang telah bersumpah tak mau ada urusan dengan Marvel Comics tak mau namanya dicantumkan. Sehingga dalam terbitan ulang yang dimulai pada 2014 lalu itu, di keterangan pengarang cuma dituliskan “Original Writer”.] 01-cover Kapankah dunia superhero direvisi, dibuat realistis, dewasa, gelap, bahkan posmodernis? Kebanyakan akan bilang: ketika Alan Moore mencipta Watchmen bersama Dave Gibbons, bersamaan dengan Frank Miller mencipta The Dark Knight Returns pada 1986. Tapi, Alan Moore telah lebih dulu merevisi Swamp Thing. Miller juga sudah mulai memasukkan realisme ke dalam seri Daredevil sejak dipercaya menulis ceritanya.

Oh, ada yang bilang: bukankah ketika seri Green Arrow/Green Lantern pada awal 1970-an memasukkan masalah-masalah sosial ke dalam cerita mereka. Oke. Bisa juga. Warren Ellis bilang, mbah-nya revisionisme komik  adalah seri Luther Arkwright karya Bryan Talbott dari Inggris, diterbitkan pada 1970-an. Oke. Bisa juga. Ada lagi yang bilang, ketika Harvey Kurtzman bikin cerita “Superduper Man” untuk Mad Magazine pada 1950-an. Huh? Hmm. Oke, oke, mereka semua bisa lah didaku sebagai mbah komik-komik superhero dewasa kita saat ini. Tapi, ayah kandung komik-komik superhero revisionis, adalah seri Miracle Man yang ditulis oleh Alan Moore dan dilanjutkan Neil Gaiman, yang terbit awalnya pada 1982.

Seri ini adalah arketip bagi banyak cerita superhero “dewasa” terbaik, terkuat, terlaris yang kita baca saat ini. Dan seri ini, kemungkinan besar, tak akan dibaca oleh banyak orang sampai entah kapan, karena terperangkap di daerah limbo kerumitan hukum kepemilikan Inggris-Amerika.

Dari awal sejarahnya, tampak tanda-tanda jerat soal hukum itu. Miracle Man pada mulanya adalah Marvelman, terbit pertama kali di Inggris pada 1954, hingga 1963. Mulanya, penerbit L. Miller & Son anteng jadi penerbit seri Captain Marvel dari Fawcett Comics, Amerika. Seri ini adalah satu-satunya yang mampu mengalahkan penjualan per bulan seri andalan DC Comics, Superman, pada akhir 1940-an. DC Comics main kayu, eh, hukum: menuntut Fawcett Comics, karena dianggap menjiplak karakter Superman. Fawcett akhirnya menghentikan penerbitan Captain Marvel. (Fawcett sendiri akhirnya dibeli DC Comics, dan karakter Captain Marvel dan kawan-kawan dihidupkan kembali di semesta DC hingga hari ini.)

Nah, di Inggris, Len Miller tiba-tiba kehilangan sapi emasnya. Ia pun lalu minta tolong penggambar dan penulis komik Mick Anglo untuk mencipta karakter serta seri untuk menggantikan Captain Marvel. Anglo dan Miller kemudian mengubah Captain Marvel jadi Marvelman dan Captain Marvel Jr. jadi Young Marvelman. Karakter maupun kisah dasarnya betul-betul meng-copy seri Captain Marvel di Amerika. Reporter muda Micky Moran akan berubah jadi Miracleman jika mengucap kata ajaib, “Kimota!” (kebalikan dari “atomic”).

Pada Maret 1982, terbit majalah antologi komik baru di Inggris, hitam putih, yakni majalah Warrior. Majalah ini memuat Marvelman versi baru yang lebih gelap dan dewasa, ditulis oleh Alan Moore serta digambar oleh Garry Leach dan Alan Davis. Marvelman versi ini terus terbit hingga nomor 21 majalah Warrior. Versi Alan Moore ini segera menarik perhatian, karena terasa revolusioner sekaligus subversif. Dalam versi ini, Alan Moore memperlakukan superhero sebagai “dewa” (god) yang hidup dan memberi konsekuensi bagi kehidupan modern. Moore juga merevisi sejarah asal-usul serta serangkaian petualangan Marvelman di masa lampau sebagai sebuah false memory, kenangan yang ditanam oleh tim saintis pimpinan Dr. Gargunza (mengambil model musuh bebuyutan Captain Marvel, Dr. Sivana).

Dari Miracleman No. 1, halaman 30

Dari Miracleman No. 1, halaman 30

False memory itu dalam rangka menjinakkan sang dewa, dengan diberi dunia serta nilai-nilai sederhana dan kekanakan. Para dewa keluarga Marvel itu sendiri adalah bagian dari Project Zarathustra, yang bereksperimen mencipta manusia super dengan mencangkokkan teknologi alien ke tubuh manusia. False memory itu jadi masuk akal dalam dunia “nyata” yang digambarkan oleh Moore. Dari episode ke episode, kisah Marvelman mengejutkan pembaca: kekerasan yang ia lakukan, kejahatan mengerikan para manusia super, masalah-masalah seks yang eksplisit. Dalam salah satu episode yang sangat kontroversial di kalangan pembaca komik Inggris, Moore dan Leach/Davis menggambarkan adegan melahirkan secara close up dan detail.

Setelah Warrior #21, majalah ini kesulitan karena tuntutan hukum Marvel yang tak ingin nama Marvel dipakai oleh penerbit lain. Izin penerbitan Marvelman versi Moore dkk. pun diambil alih perusahaan Amerika, Pacific Comics, dan setelah Pacific bangkrut lantas diambil oleh Eclipse Comics. Pada Agustus 1985, Eclipse menerbitkan ulang seri Marvelman di majalah Warrior, diberi warna, dan diubah namanya (atas tekanan Penerbit Marvel) menjadi Miracle Man. (Jadi, bisa dipahami, bukan, kenapa Alan Moore tak pernah mau kerjasama dengan Marvel Comics?).

Moore meluaskan dunia Miracleman. Konsekuensi-konsekuensi kehadiran dewa di alam manusia sungguh bisa mengerikan. Pada Miracle Man nomor 15, Kid Miracleman yang telah netral sebagai alter ego “asli”-nya yang trauma berat atas perbuatan jahat versi super dirinya, kembali. Dan, wah, ia kembali dengan dendam seorang dewa: mewujudkan neraka di muka bumi. Saya pilih kata “neraka”, karena kengerian dunia yang diamuk oleh Kid Miracleman dewasa, yang lebih suka dipanggil Johny Bates, seorang dewa sociopath, sama ngerinya seperti waktu saya lihat komik-komik “Surga dan Neraka” sewaktu kecil dulu. Sampai sekarang, masih banyak yang menganggap spread neraka bumi hasil amukan Johny Bates yang digambar oleh John Tottleben (kemudian jadi partner Moore di seri Swamp Thing) sebagai masterpiece kengerian di dalam komik.

Pada Miracleman no. 16, Miracleman melakukan langkah agresif merestorasi bumi: ia mewujudkan utopia. Ia mengambil alih kepemimpinan bumi dari manusia. Masalah-masalah sosial dieliminasi. Sistem uang dihilangkan. Gurun dihijaukan. Bahkan, terakhir, orang mati dihidupkan –walau teknologi hanya mampu menghidupkan mereka yang wafat “18 bulanterakhir”. Dan hidup kembalilah Andy Warhol. Apa yang dilakukan Warhol? Ia minta dirinya diperbanyak sampai delapan belas, sebagai bagian lakon artistiknya. Ini humor cerkas.

Dari Miracleman no. 16

Dari Miracleman no. 16

Belum lagi humor si Moore tentang para fundamentalis Islam dan Kristen yang menentang Miracleman. Dalam sebuah celetukan, Miracleman bilang pada para pendampingnya, “bagaimana kalau kita ciptakan surga buatan untuk mereka, yang seperti mereka impikan, setelah mereka mati?”

Tapi utopia yang dipaksakan itu sungguh menyisakan gangguan pikiran pada para pembaca. Alan Moore sendiri menyudahi Miracleman di nomor ini. Pelanjutnya? Neil Gaiman. Moore sendiri, menurut Gaiman, yang selalu mendorong Gaiman muncul ke permukaan sebagai penulis komik. Tapi Gaiman harus melanjutkan tugas tak mudah: apa yang bisa diceritakan, setelah utopia terwujud? Gaiman menerapkan gaya naratif/kekisahan yang berbeda: ia memfokuskan cerita pada individu-individu di bumi, para manusia biasa, bagaimana mereka harus hidup dalam utopia yang “nyata” tapi dipaksakan oleh dewa Miracleman. Dan Gaiman juga terfokus pada permainan bentuk: ia bereksperimen dengan penuturan visual, dengan bahasa gambar. Jadilah seri Miracleman ini menjadi komik yang penuh kepekaan senirupa. Terutama nomor 19, yang menokohkan Andy Warhol. Inilah sebuah meditasi tentang pop art dan komik yang cemerlang!

Miracleman no. 19, halaman 14

Miracleman no. 19, halaman 14

Tapi, sebetulnya Gaiman sedang menyiapkan sebuah kisah epik baru bagi dunia Miracleman. Ia membagi tiga babak kisah Miracleman yang ia tulis: Golden Age, Silver Age, dan Dark Age –yang mengisahkan kembalinya sang nemesis, Kid Miracleman atau Johny Bates. Sayang, pada nomor 24, penerbitan terhenti. Eclipse bangkrut pada 1994. Nomor 25, yang konon sudah selesai, dan merupakan episode kemunculan kembali Kid Miracle, tak pernah terbit hingga kini. Dan dimulailah liku-liku perseteruan hukum yang rumit hingga kini.

Terlalu rumit lah perseteruan hukum itu saya tulis di sini. Yang jelas, Gaiman jadi berselisih dengan Todd McFarlane yang membeli segala asset penerbit Eclipse pada 1996. Gaiman memperkarakan hak terbit Miracleman yang menurutnya masih ia pegang sebagian. (Alan Moore memberi hak copyright dan royalty 30% pada Gaiman, dan tak lagi terlibat dalam ribut-ribut soal Miracleman.) Banyak pihak terlibat, termasuk penerbit awal Miracleman sewaktu masih Marvelman dulu. McFarlane membeli Eclipse, konon, hanya karena tertarik pada Miracleman dan berniat memasukkannya ke semesta Image (waktu itu). Ia mengenalkan Mike Moran, alter ego Miracleman, pada 2001 di Hellspawn #8, dan berniat memunculkan Miracleman di nomor 13. Tapi Gaiman buru-buru memperkarakan secara hukum lagi, sehingga Miracleman tak jadi muncul di dunia Spawn (Alhamdulillah!…:P).

Yang jelas, gara-gara kerumitan soal hukum ini, bahkan cetak ulang Miracleman versi Moore/Gaiman pun tak kelihatan akan terlaksana. Jadilah, seri ini sebagai sebuah “holly grail” –harta karun suci– kalangan pencinta komik superhero. Apakah karena status legenda ini, kehebatan Miracleman jadi dibesar-besarkan? Tentu saja, Alan Moore maupun Neil Gaiman tumbuh jadi penutur kisah komik yang lebih matang sesudah Miracleman. Tapi, sebagai cerita, Miracleman masihlah sebuah cerita superhero terbaik dan terkuat yang pernah ada.

Lebih dari itu, terutama pada periode Moore, ia mengandung banyak sekali arketip kisah superhero masa kini yang serba “realistis” dan “posmo”. Misalnya, superhero yang jadi psikopat dan melakukan kejahatan brutal, bukankah saat ini banyak dieksploitasi dalam Infinite Crisis dan Final Crisis –seperti terjadi pada Superman Earh One, Superboy Prime, dan terakhir, pada Mary Marvel? Moore sendiri mengembangkan lebih lanjut ide tentang konsekuensi superhero berkekuatan dewa dalam sejarah “nyata” umat manusia, dalam Watchmen. Kisah Kingdom Come juga banyak mengambil ide dari Miracleman.

Ide manusia super memaksakan kehendak mereka mewujudkan utopia pernah diangkat dalam seri pertama JLA versi Grant Morrison, juga diterapkan oleh Warren Ellis dalam Authority. Bahkan, bukankah itu yang jadi impian Hal Jordan ketika ia jadi gelap mata, membunuh Green Lantern Corpse, dan berubah menjadi Parallax? Keinginan mewujudkan utopia itulah –dalam skala jauh lebih besar dari Miracleman– yang jadi dasar cerita Zero Hour. Miracleman jelas memengaruhi juga seri “superhero dewasa” seperti Rising Stars, Squadron Supreme, dan semua karya superhero dari Mark Millar.

Belum jika kita bicara artwork-nya. Tak seluruhnya bagus. Era John Tottleben, misalnya, terhitung tampak amatir –walau, bahasa visualnya tetap menarik. Tapi, ada momen-momen visual yang asyik sekali dalam seri ini. *** MM no 5 01-cover 09-Page8 pinup MiracleMan_06_01a Miracleman 19 - 16   Miracleman-20-R4-p02

Cameron Stewart & Brenden Fletcher (w)
Babs Tarr (a)

Publisher: DC Comics, 2014.

World....this is Batgirl of Burnside! yaay!

World….this is Batgirl of Burnside! yaay!

Fix: Batgirl/Barbara Gordon/Babs is my all time favorite millennials.

I have to confess though: the first episode of this renewed and hipsterized Batgirl didn’t hit off as I hoped for me. Too many words (or to be precise: too many texting –yep, this newly imagined Babs is one busy millennials!), and too many hip references. This new Batgirl’s world, a fictional “cool” hood Burnside, is full of communication gadget, nerdy and urban teen lingo, and fashion angst. I simply couldn’t fit in this American Millennials drama.

And then, there’s that drawing style by Babs Tarr. I understand that this shoujo-manga-like meshed with “traditional” American comics style is our current “it” thing in the latest teen visual scene in America and probably anywhere else (including in Jakarta?). But for me, it is an acquired taste.

Yet, I immediately like the characterization. I guess this Babs is so down to earth –in her own quirky way. And, yes, I kinda love the new costume design. It’s not overtly sexy but rather stylish and, most importantly, it looks practical. It is like something that I could accept if ever there is a superhero in the real world.

Barbara Gordon is living a new life as a college kid. She’s making a thesis on social map using her own predictive algorithm. (See? Predictive algorithm, hey?) She meets many cute guys. This Babs is quite liberal about her love prospects and at the same time very cute and shy about it. But her friends are not so shy and very active about it. In other word: typical of millennials love life.

Her gallery of rogues so far is an information manipulator DJ, a pair of twin Otaku who become live version of characters in an obscure anime series, and an impersonator who treated “Batgirl urban myth” and the villainy as a performance art. And behind it all, there is someone unknown who knows everything about Babs/Batgirl and super resourceful in supplying the need to create new enemies for Batgirl.

Information is the true weapon for both Batgirl and her enemies. Sure, Babs still kick ass with her acrobatic and martial arts skills. But she rely most of her winning on her full-and-artist-like grasp on information. Apparently, so does her mysterious archenemy.

Screen shot 2014-12-15 at 7.47.05 AM

And when we read a little deeper, we find that the main issue in this series is secret. It’s even a stronger issue because of its in a very information-conscious world. Information gadgets make us vulnerable –that’s the main story here. They make it almost impossible to keep our deepest or fondest secrets. They can even alter our life –look at what it does to Dinah (Black Cannary –the true partner and friend of Babs in her years as Oracle, through out Birds & Prey series). They can even alter our identity. And yes that is another main story in here: the problem of identity.

We know now so much about so many things. We need to know so much about so many things. From the dawn of civilization, information and knowledge is Power –but alas, it is still true, or truer than any other era, in the world where information is everybody’s business. Current condition of Power according to Batgirl’s world is that whoever gather and accumulate information the most could screw up everybody’s sense of identity and reality: “I know who I am. But, is everybody else know who I am?” Because, if no one knows who I am, is this the true Me?

Actually, this issue was already dealt with in Grant Morrison’s Invisibles and Warren Ellis’ Transmetropolitan. But, while those two cult series had the aura of grandeur, this Batgirl series has a charming mundane aura.

Screen shot 2014-12-15 at 9.21.53 AM

Look: in no. 37, Batgirl finally decides that she has to embrace the selfie culture. She open an instagram-like (“Pixtagraph”) account, and make an open war of images with whoever it is that has stolen her information and could leisurely makes copies of Batgirl. She couldn’t fight this mysterious enemy if she stays in the dark. So she embraces the light. Or, in this case, she embraces the social media frenzy. “This is the way I chose to be seen,” said Babs to Dinah who grumpily takes a picture of her.

Best. Selfie-reasoning. Ever. ***

Batgirl-036-(2014)-(Digital)-(Nahga-Empire)-001

Moon Knight (2014-) 001-000

Warren Ellis (w), Declan Shalvey (a)
Marvel, 2014

So Ellis is back in superhero comics. I am an Ellis believer. Wherever his name pops up, I will follow. And in this newest incarnation of this interesting character, Ellis didn’t disappoint.

In number 1, Ellis established effectively and smoothly the reintroduction of Moon Knight mythology in just two pages, using a device that is quite clever: an online conversation between a blogger and her friend. The dialog is crisp, the tone of the story quickly painted. And lo! What? No big white cloak?

Moon Knight (2014-) 001-006

But that’s OK. This is Ellis after all. I will follow. So, this new story placed in his New York (you don’t need to hear that spoken out loud from a character’s mouth, but just see it yourself in the police car in the second page –that’s comic’s writing, baby!). Marc Spector a.k.a. Moon Knight arrived in a crime scene. The last time we saw him, he went completely insane. Here, in NY, every one know he is insane. But in the crime scene, he is welcome by detective Flint.

And so he becomes a rather Monk-esque guy, read the scene of the heinous crime by “Slasher”, unknown psychopath, thoroughly and elegantly. You know, Ellis always know his stuff when writing about crime solving stories. But I miss something here: where the promise of a ridiculously big scheme?

Ellis seems to treat this series with a small and localized approach, like his independent comics works such as Mek, Fell or Desolation Jones. But Ellis is always good in creating character-driven stories. You think you’ve had it all figure out with this Moon Knight guy? You just wait for what Ellis has to offer.

The first issue has many talking heads panels, but the dialogues (and this is one of Ellis’s gift) is somehow create an authentic feel of a genuine full blown action-type storytelling. The third act of this issue is somewhat badass in term of fighting scene, but with surprisingly minimal action. The dialogues, man, the dialogues!

Screen shot 2014-04-28 at 11.19.40 PM

The second issue is pure comics story telling. The opening act is an interesting strategy in juxtaposing panels to build up a brutal scene. Sure, so many dialogues. But the way Ellis tells them, the words are somehow not as important as the overall situation. But what is really fun in this issue is that the most part of the story is pure action with barely dialogues between the characters. And the cloak (and the old costume, for that matter) is back! Yaaay! And, the art by Declan Shalvey is more than able to carry the story. Again: pure.

Moon Knight (2014-) 002-015

So, yes, Warren Ellis is back. I am a happy believer. ***

Moon Knight (2014-) 002-000

Stray Bullets - Killers 001-000

Penulis/Penggambar: David Lapham, Penerbit: Image Comics (2014)

Setelah sembilan tahun tak terbit, seri ini berlanjut lagi, dengan cerita yang berkisar di seputar payudara.

Tepatnya, di seputar obsesi lelaki pada payudara. Panil pertama komik ini bahkan memang sebuah close up payudara seorang penari telanjang. Lalu panil selanjutnya, suasana klub tari telanjang, dan di panil ketiga, tokoh yang jadi fokus pada nomor ini: seorang bocah lelaki bernama Eli yang sembunyi di klub itu mengintip semua payudara di klub itu.

Silakan berpikir ngeres, tapi ini bukan komik porno. Ini adalah seri crime story yang pertama kali terbit pada 1995. Seri ini memang untuk pembaca dewasa, jadi payudara bisa dibicarakan (dan digambarkan) cukup leluasa dalam seri ini. Tapi, yang utama, ini cerita tentang dunia, dan orang-orang yang berada dalam semesta kelam kejahatan. Para pembunuh, perampok, buronan, pemerkosa, juga orang-orang biasa yang degil atau terjebak, atau sengaja, melakukan kejahatan.

Ketika pertama terbit, seri Stray Bullets dianggap mengejutkan karena kedewasaan tema dan kebaharuan naratifnya. David Lapham merancang narasi visual yang non-linear, untuk sebuah cerita noir (apalagi komik ini dibuat nyaris semuanya hitam putih) yang praktis sangat menggigit pembaca komik Amerika pada pertengahan 1990-an itu.

Stray Bullets, dan segala metode naratif serta teknik karakterisasi dari David Lapham, ternyata menjadi salah satu seri komik paling berpengaruh bagi komik Amerika pada saat itu. Penulis komik yang sedang naik daun saat ini, Matt Fraction, mengaku terpengaruh oleh seri ini. Saya bisa melihat pengaruh itu: metode bertutur fragmentaris, pengacak-acakan waktu-kisah yang santai, sudut pandang yang berubah-ubah dalam mendekati sebuah poros peristiwa, seperti yang tampak dalam karya Matt, seri Hawkeye terbaru dari Marvels Comics.

Boleh dibilang, seri Stray Bullets (bersama seri Sin City dari Frank Miller) membuka jalan bagi popularnya genre crime stories dan noir di perkomikan Amerika. Seri ini juga penting karena menjadi salah satu contoh terbaik sukses penerbitan komik independen dan swa-terbit (self-publishing). Sayangnya, karena memang dikelola swadaya oleh David Lapham dan Maria Lapham, penerbitannya tak selalu lancar. Bahkan, pada 2005, di nomor 40, Lapham menghentikan sementara seri ini.

Dan kini, seri itu terbit kembali. Bocah Eli terobsesi pada payudara, dan dia berbagi dengan teman-temannya. Ayah Eli pun sama, ia kecanduan nonton tari telanjang dan entah apa lagi yang ia lakukan. Dari sudut pandang Eli, dunia penuh umbaran payudara itu (secara visual sebetulnya tak banyak di komik ini –andai Anda penasaran), cukup sukar ia pahami.

Tapi Eli bisa menggambar. Ia menggambar banyak payudara untuk teman-teman sebayanya. Ia juga bertanggungjawab, mengurusi adik perempuannya yang masih bayi. Ia anak baik sebetulnya.

Itu yang dilihat oleh Scotty, si pembunuh bayaran pemuja Star Wars yang sering muncul di dalam cerita-cerita Stray Bullets sebelumnya: Eli anak yang oke. Tapi, dalam dunia penuh kekerasan itu, kematian tak wajar seperti niscaya. Ayah Eli adalah pelanggan tetap klub penari telanjang yang sering diintip Eli. Dan dunia Eli yang polos bertabrakan dengan dunia Scotty dan kawan-kawan yang telengas.

Saya tak hendak menceritakan ulang kisah ini. Baca saja sendiri, kalau sempat. Internet bisa kok memudahkan kita untuk soal ini. Saya lebih ingin mengapresiasi kematangan Lapham bercerita dalam komik ini.

Screen shot 2014-03-17 at 4.58.36 PM

Dengan kisi-kisi dua kali empat panil yang jadi ciri seri ini, Lapham membiarkan cerita mengalir secara rileks. Keterampilannya mengguriskan pena dan tinta tampak sudah “sampai”. Lapham mungkin bukan penggambar sekuat Alex Toth atau Paul Pope, tapi kepribadian garisnya sudah terbentuk: Lapham mampu menoreh garis dan blok tinta hitam dengan mantap, dan setiap panil selalu jelas belaka apa yang digambarkan.

Screen shot 2014-03-17 at 4.52.49 PM

Dan tentu saja, kelebihan utama Lapham adalah sebagai penulis. Kemampuannya menggambar sangat membantu dalam bagaimana cerita dialirkan, serta bagaimana cerita itu bergerak di dalam panil maupun di antara panil ke panil. Rancangan angle atau sudut pandang yang meniru kamera dalam film jelas dikuatkan oleh kemampuan menggambar tersebut. Tapi, Lapham juga punya telinga yang baik untuk menyimak dan menuangkan kembali percakapan lisan sehari-hari di Amerika.

Karakterisasi tokoh-toko Lapham sangat kuat, masing-masing karakter terlihat keunikan dan kepribadian mereka. Padahal, semesta Stray Bullets terisi banyak sekali tokoh –semuanya bisa jadi menarik di tangan Lapham. Dan ia mampu mengkhayalkan cerita-cerita yang menohok dari dunia kelam kaum kriminal itu, dengan tema yang dibalur rasa angst (perasaan kebuntuan generasional) yang tebal.

Sebuah hukum besi kisah noir, bahwa “yang tampak belum tentu yang sebenarnya terjadi”, hadir kukuh lewat teknik-teknik naratif dari Lapham. Artinya, Lapham pandai menggeser-geser sudut pandang demi mempermainkan apa yang terlihat dan apa yang tak terlihat, apa yang ditampakkan dan apa yang disembunyikan.

Screen shot 2014-03-17 at 5.43.07 PM

Misalnya, dengan memilih sudut pandang si bocah Eli dalam kisah ini, pembaca sukar menebak apa yang ada dalam pikiran Scotty. Begitu juga, soal apa yang sesungguhnya telah dilakukan oleh ayah Eli? Lalu, tiba-tiba saja, klimaks yang menabrak dari arah nyaris tak terduga. Tapi, setelah dipikir-pikir sesudahnya, sebetulnya adegan di bagian klimaks itu amat sangat logis. Pada saat membaca hingga bagian akhir cerita ini, saya tergampar sebuah momen WTF…! Kisah kegandrungan pada payudara menjadi sebuah kisah tragedi.

Selamat datang kembali, David Lapham, ke dunia komik indie yang telah melahirkan karirmu dulu. Menunda lama sebuah karya, jika hasilnya begini, sungguh berharga dan patut disyukuri. ☺ ***

Screen shot 2014-03-17 at 5.51.46 PM

Oleh: Brian Bolland (cerita & gambar), Penerbit: Knock About, Palmano Bennett – 2004.

Bolland 001

Kalau Anda penggemar komik superhero Amerika, kemungkinan besar pernah terjamah gambar Brian Bolland. Boleh dibilang, Bolland adalah salah satu penggambar aliran realisme-klasik terbaik dalam sejarah komik Amerika. Walau, sebetulnya, ia orang Inggris. Dan sebetulnya, ia jarang membuat komik.

Bolland sudah ngomik sejak awal 1970-an. Namanya melesat jadi bintang perkomikan di Inggris, setelah ia menggambar untuk seri Judge Dredd di majalah khusus komik terbitan Inggris, 2000 AD. Dan pada 1982, namanya berkibar juga di Amerika, karena menggambar sebuah maxi-series penting dalam sejarah DC Comics, yakni Camelot 3000, yang ditulis oleh Mike W. Barr. Komik ini penting, karena di DC Comics komik ini merupakan pelopor dalam format maxi-series, dan dalam mutu cetak yang menanggalkan teknik cetak empat-warna.

Kebintangan Bolland melesat ketika ia menyelesaikan gambar untuk komik 64 halaman yang ditulis oleh temannya dari London, Alan Moore. Komik itu, tentu saja, Batman: The Killing Joke. Di situ, Bolland dianggap banyak pengamat berhasil memberikan karya terbaiknya dalam bentuk komik. Bolland sendiri memang mendapat keleluasaan waktu dan kreatif untuk menyelesaikan komik ini sesuai kemauannya.

Tapi, Bolland jarang membuat komik. Wajar saja, melihat keterampilan dan ketelatenannya menggambar realis. Bolland lebih sering membuat gambar/desain sampul komik superhero Amerika. Sampai kini, karya-karya Bolland masih dianggap termasuk cover komik superhero terbaik sepanjang masa.

Saking jarangnya membuat komik, maka logis belaka ketika ada penerbit yang berani mencetak mewah kumpulan karya komik Bolland, yang semuanya ditulisnya sendiri, yang mengambil bentuk komik pendek atau komik strip. Antologi ini mengumpulkan empat cerita bertajuk The Actress and The Bishop, 54 strip satu halaman bertajuk Mr. Mamoulian, dan enam cerita lepas.

Dalam pengantarnya untuk The Actress and The Bishop, Bolland bercerita bahwa ilham seri ini adalah sebuah ungkapan dalam percakapan di Inggris. Ungkapan yang lazim diucapkan dalam percakapan lisan itu kira-kira menempatkan “The Actress and The Bishop” seperti ungkapan “fish and chips“, “chalk and cheese“, “princess and frog“, dan sebagainya.

Jadi, Bolland hanya mengharfiahkan ungkapan itu: membuat komik tentang pasangan aktris seksi nan muda, dan seorang uskup (bishop) gemuk dan tua. Mereka hidup di sebuah dunia yang malas dan penuh lamunan. Mereka tampak tak ingin mencapai apa-apa lagi dalam hidup. Mereka sudah dalam nirwana domestik.

Screen shot 2014-03-16 at 9.47.32 PM

Saya tak tahu apakah dalam komik-komik ini Bolland memang seorang intelektual tersembunyi, semacam pemikir seni atau mungkin sastrawan, yang menyamar jadi komikus; ataukah dia sekadar seorang British Gentleman, dengan tradisi literer angkuh dan humor keringnya yang anggun-ngehek. Yang jelas, selayaknya seorang British Gentleman sejati, Bolland menampakkan kesan dia kurang kerjaan, iseng belaka, dalam komik-komik ini.

Yang saya maksud kesan iseng-iseng itu adalah cerita-ceritanya. Gaya tuturannya serius, tapi setelah tak terlalu lama kita hanyut, terasa kita sedang dikibuli oleh sekumpulan non sense. Tak ada kebermaknawian dan keberartian yang bisa ditarik sungguh-sungguh dari cerita ini. Tentu, seolah ada filsafat di arus bawahnya. Renungan-renungan tentang waktu, segala yang telah lampau, sesuatu yang mungkin, kesia-siaan melawan lelucon takdir, atau seharusnya, semacam itulah.

Tapi, benarkah kita membaca komik-komik ini demi mencari makna? Benarkah ada sebuah dorongan keberartian yang kuat dalam komik-komik setrip Bolland ini?

Tentu kita akan hanyut oleh gambar-gambar Bolland. Keterampilannya mengelola garis sungguh mumpuni. Ya, dibanding banyak penggambar master lainnya di dunia komik (misalnya, Hal Foster, atau Alex Raymond) maupun di luar komik (misalnya, Rembrandt –saya ingat rasa syok saya waktu melihat langsung etsa-etsa Rembrandt di Erasmus Huis, Jakarta), Bolland mungkin masih terlihat kekurangannya di buku ini.

Kadang, jika kita cukup menekuri, tampak garis-garis Bolland kurang halus. Semacam realisme klasik yang agak tergegas. Ini cukup tampak di beberapa bagian dalam setrip The Actress and The Bishop, seperti panil ini:

Screen shot 2014-03-16 at 8.25.31 PM

Tapi, ini mungkin ceriwisnya kritikus saja. Sebagai komik, realisme klasik Bolland sungguh lezat di mata. Dan memang, itu poin saya: dengan beberapa kekurangannya, Bolland terhitung master dalam seni sekuensial. Dan ia juga piawai dalam hal penuturan naratif verbal komik-komiknya. Kepiawaian Bolland dalam hal tuturan verbal justru mencuat karena ia terasa sedang mempermainkan kita dalam berhubungan dengan teks-teks literer yang “serius”.

Misalnya, cara dia menutur kisah-kisah The Actress and The Bishop dan beberapa cerita lepasnya yang meniadakan balon dialog untuk percakapan. Kita mendapatkan rasa klasik di situ (terutama yang pernah mencicipi komik-komik setrip seperti Prince Valiant dari Hal Foster, atau Jungle Jim dari Alex Raymond).

Walau, untuk satu panil dalam The Actress and The Bishop: The Thing in The Shed, dengan nakalnya Bolland menyelipkan satu balon bicara –dan bukan untuk percakapan:

Screen shot 2014-03-16 at 9.44.58 PM

Dengan gaya klasik itu, Bolland leluasa mempermainkan narasi tekstual di dalam caption. Permainan naratif yang paling berhasil adalah pada cerita lepas berjudul The Kapas. Di situ, Bolland meledek habis-habisan narasi kaum Imperial-Orientalis, dengan cara meniru secara konsisten cara pengisahan mereka yang jadi terasa dungu di masa kini.

Dalam The Kapas, sang narator, seorang penjelajah Inggris bernama Sir Neville Wooldridge yang bergelar Seventh Earl of Devonshire. Ia dan rombongan ekspedisinya tiba di sebuah kota di Timur Jauh, Urumqi (saya tak hendak mengecek untuk tulisan ini apakah itu kota yang nyata ada? –saya ingin mempertahankan kesan imajinatif kota ini), dan menyaksikan sebuah bentuk hukuman mati yang kejam.

Screen shot 2014-03-16 at 9.27.21 PM

Bolland dengan berdisiplin berhasil mempertahankan tuturan angkuh seorang penjelajah kolonial yang berhadapan dengan sebuah horor eksotik, tetap dengan jarak dan keriangan yang dungu, sampai-sampai di satu titik para rombongan bule itu berfoto di samping sang terhukum yang sedang menjalani siksaan mengerikan itu.

Tapi, yang sangat menyenangkan dari kumpulan komik ini adalah 54 komik setrip Mr. Mamoulian. Bolland mengantar bagian ini dengan menyatakan bahwa semua komik Mr. Mamoulian lahir dari keisengan di saat ia capek menggambar untuk pekerjaan profesionalnya (umumnya, menggambar untuk sampul komik Amerika). Rileksasinya adalah menggambar setrip ini, yang menurut pengakuannya adalah sekadar mencurahkan apa saja yang melintas di kepalanya.

Hasilnya sungguh beragam. Seluruhnya boleh dipandang tanpa keseriusan. Bolland bisa melompat dari topik ke topik feminisme, religiositas, seni rupa, dan sebagainya. Tuturan dan dialognya bisa jadi sangat serius, penuh jargon dan kata-kata “tinggi”. Tapi kita segera menangkap bahwa segala keseriusan itu adalah cara Bolland mempermainkan kita.

Bolland 060

Dan bukan sekadar karena gaya kartun Bolland dalam menggambar tokoh Mr. Mamoulian (dan Evie, yang awalnya dipanggil Shit Face). Saya suka sekali gaya kartun Bolland. Lebih asyik, melihat betapa santainya Bolland mencampur gaya kartun dan gaya realisnya yang telah jadi mereknya. Toh, bukan itu yang membuat kita segera menangkap keisengan Bolland. Tapi, caranya memberi konteks absurd bagi dialog-dialog “serius” di dalam dunia Mamoulian.

Screen shot 2014-03-16 at 6.34.46 PM

Screen shot 2014-03-16 at 9.28.39 PM

Bahkan dalam sebuah setrip yang saya suka sekali dari seri ini, sebuah tribute atau persembahan Bolland terhadap pelukis Francis Bacon (ya, pelukis kontemporer, bukan yang filosof zaman renaissance itu), Bolland berhasil mempertahankan absurditas keseriusan tersebut. (Atau, mungkin itu kesan yang saya dapatkan, setelah terbiasa dengan cerita-cerita Mr. Mamoulian sebelumnya lalu tiba-tiba terantuk cerita ini, yang terasa menabrak dan menyempal dari pakem setrip.)

Bolland 050

Di arus bawah segala kebermainan itu, kita menatap Mr. Mamoulian, sebuah karakter yang secara tarikan garis sungguh sebuah sosok “anti-(gaya)Bolland”: jauh dari ganteng, tak rapi, dengan garis-garis spontan yang penuh cemas. Kita menatap kecemasan-kecemasan remehnya. Kesalahtempatannya. Kesalahwaktuannya. Kewaguannya. Kita melihat seseorang biasa, bukan superhero. Dan perlahan, Mr. Mamoulian tumbuh dalam diri kita, sepanjang 54 komik setrip ini, sebagai sosok yang mungkin saja kita jumpai. Atau jangan-jangan memang diri kita ada tergambar di situ.

Screen shot 2014-03-16 at 6.26.02 PM

Setrip Mamoulian pertama kali saya baca sebagai bagian dari seri antologi komik Negative Burn terbitan Amerika Serikat. Ukurannya sebagaimana ukuran komik bulanan di Amerika, yang memang bersifat majalah atau pamflet. Dalam buku ini, ukurannya seperti  album komik Eropa. Jadi, kelezatan garis Bolland, secara keseluruhan, bisa kita nikmati lebih leluasa. ***

 

Writer: Geoff Johns, Artist: David Finch
DC Comics (2013-2014)

2013-09-04 07-08-00 - Forever Evil (2013-) 001-000

Let me say this up front: I hate where DC universe is heading now.

The last great story from this kind of marketing stunt from DC Comics is Identity Crisis mini series. It was actually a rather domestic (superhero) story that managed to be a good whodunit plot with plenty twists yet surprisingly very true to the superhero genre. The somewhat domestic superhero-murder-mystery apparently had cosmic scale consequences in DC universe that DC Comics milked it as a money-cow gimmick for years after Identity Crisis.

Well, now they are at it again. Cosmic scale destruction, more characters killed, or their life destroyed, and many “oh-ah! Whoa! WTF!” scenes. Geoff Johns was a good comics writer, but he was never that good –not like Grant Morrison or James Robinson good. Or if you want a Marvel comparison, he couldn’t match Bendis in pulling off a big cosmic cataclysm story line for DC.

Screen shot 2014-03-16 at 5.06.34 PM

In Identity Crisis, the spectacular is a consequence of the core tragedy in The Atom’s life. Reading this newest cross over story line, I immediately felt that the spectacular is the only goal.
The characters are rough caricatures. Lex Luthor, for example, doesn’t feel authentically genius and cold. He had nothing really intelligent to say, a complete failure in comparison to his portrayal by Morrison in Superman All Stars. Ultra Man from Crime Syndicate is just an addict and thug. He’s too evil, utterly so, that he becomes too flat. Superwoman? She’s just a cheerleader in Crime Syndicate. So is Catwoman for Batman in this story.

So, the exposition of Night Wing’s identity in the first arc is just makes me feel betrayed. A blatantly gimmicky marketing move, this scene is where I lost hope for this story. So, the bomb that wired to Grayson’s heart? Meh. I consider it as a prank, at the reader’s expanse.

I always like David Finch’s art though. ***

Screen shot 2014-03-16 at 5.18.11 PM

She-Hulk (2014-) 001-000

writer: Charles Soule, artist: Javier Pulido

She-Hulk is a product of John Byrne’s hormones. Well, admittedly, Byrne didn’t create the character.

04-11-10 01 53

It was Stan Lee and John Buscema. But She-Hulk gained her popularity when she got her own solo runs in The Sensational She-Hulk, which began with Byrne stories for the first eight issues. Byrne would come back for this series, and wrote #31-50 of the series and that’s when we know for sure that Byrne’s hormones were on a rampage. I smell classic Star Trek wet fantasy in those episodes. (Green bombshell prone to get naked? You bet!)

Throughout that period, She-Hulk was basically “a green skinned bombshell” –a description still used in this newest solo series. So, sure, you can make She-Hulk all grim and gritty or all artsy-fatsy. But she’s best when she’s all fun and (at the risk of sounding like a sexist pig) sexy.

And boy, do Soule and Pulido get it! This new series focuses on the daily life of She-Hulk, ah, Jennifer Walters. This is in line with Marvels newest trendy style for some of their series such as Matt Fraction’s Hawkeye and Mark Waid’s Daredevil. The trendy style goes something like this: the graphic design savvy covers, the focus and point of view of everyday life in an individual hero, the light tones of the stories (but not without some kind of narratives sophistication), the cartoony style of the pictures married with bright and simple coloring. In short: the determination to make Marvels heroes become fun, fun, fun again.

She-Hulk (2014-) 001-008

Well, it worked for Daredevil and Hawkeye, and it works for She-Hulk too. Soule gives no small feat in throwing his apparently in-depth knowledge about law into this story. This is Jennifer Walters the lawyer first, and She-Hulk second. It involves Tony Stark as a corporate monarch barricades himself with an army of ass holes lawyers. But being She-Hulk, it just has to have robots also.

And what I really appreciate of this issue is how Soule and Pulido manage to capture nicely the girly side of this sexy monster. What, piggy tailed She-Hulk? Cute.

Screen shot 2014-03-09 at 11.00.46 PM

Cerita: Apostolos Doxiadis & Christos H. Papadimitrou, Gambar: Alecos Papadatos & Annie Di Donna. Penerbit: Bloomsbury, 2009.

Ulasan ini saya hadiahkan untuk Ifan Ismail

Oke. Kenapa saya sangat suka, dan bergairah, saat membaca komik ini? Apakah saya seorang matematikawan, atau penggemar matematika? Tidak. Sepanjang hidup saya, seperti kebanyakan orang, saya lebih sering tak mengerti matematika, tak mampu memahami banyak persoalannya, dan lemah dalam berhitung-hitung soal-soal rumit.

Apakah saya penggemar logika? Ah, oke. Sebentar. Ada sedikit cerita.

Jelas, saya bukan seorang ahli logika –seorang yang secara profesional mendalami logika. Jauh dari itu. Tapi, saya adalah seorang yang sejak usia dini (sekitar usia 10-12 tahunan) memutuskan akan jadi penulis. Dan, sebagai seorang musafir dalam perjalanan menuju/menjadi Penulis, saya harus menggeluti bahasa. Ah, di sinilah saya bercumbu dengan keping-keping logika.

Anda tahu bahwa salah satu pelajaran dasar yang wajib dalam jurusan penulisan kreatif (creative writing) adalah logika? Setidaknya, logika kalimat. Tapi, untuk bisa memahami secara lebih utuh apa maksud (atau pentingnya) logika kalimat dalam tulisan, mau tak mau, logika dasar perlu dipelajari.

Dan, kemudian saya menemukan, hidup sebagai penulis adalah hidup dalam tuntunan logika. Ah, sebentar, jangan protes dulu. Jangan lupakan salah satu kata penting itu: “hidup”. Di situ juga, dalam kata itu, salah satu sumber dilema seorang penulis. Bahwa, ternyata juga, Hidup, seringkali (terlalu sering?), membangkang dari logika.

Hidup seringkali adalah sebuah benturan antara Yang Logis vs. Yang Tak Logis. Hidup seringkali memberi kita batas-batas bagi Logika. Dan komik ini adalah cerita tentang orang-orang yang bertempur di perbatasan itu. Komik ini (ah, maaf, “novel grafis” ini) adalah cerita tentang orang-orang yang bergulat dengan batas-batas Logika. Dan banyak dari mereka jatuh jadi korban pergulatan ini.

Bertrand Russel, yang jadi tokoh utama komik ini, mengalami keruntuhan rumah tangga berkali-kali, seringkali di ambang depresi, anak sulungnya menderita skizophrenia (dan cucu perempuannya juga, malah hingga bunuh diri). Frege, matematikawan yang jadi sumber ilham terbesar Russel, didera paranoia pada masa tuanya, dan menulis buku tentang pemberantasan Yahudi. Cantor, juga matematikawan terhebat di zamannya, mati di rumah sakit jiwa (RSJ). Gödel berkali-kali dirawat di RSJ karena melankoia, dan pada waktu tuanya, ia menderita Paranoid. Ia wafat di rumah sakit biasa, karena menolak semua nutrisi dari rumah sakit, karena takut ada yang akan meracuninya. Hilbert, matematikawan yang juga mengilhami proyek foundational mathematics-nya Russel & Whitehead, kelihatan normal. Tapi banyak yang bertanya-tanya soal perlakuannya pada anak tunggalnya, yang pada usia 15 didiagnosa skizophrenia lalu dikirim ke RSJ hingga akhir hayatnya: Hillbert tak pernah mengakui punya anak sejak itu.

Banyak cerita “kegilaan” semacam itu. Pengarang komik ini, Apostolis Doxiadis (matematikawan yang juga seniman film, teater, dan kini, komik) dan Christos Papadimitrou (profesor ilmu komputer dan novelis), memang berangkat dari sebuah diskusi tentang hubungan antara Logika dan Kegilaan. Sungguh menarik bahwa diskusi mereka, bersama para penggambar dan periset mereka untuk komik ini, jadi bagian penting dalam komik ini. Dengan demikian, secara naratif, bolehlah disebut komik ini bersifat “posmodernis”: mengandung meta-narasi dan meta-fiksi.

Tapi, jangan gentar, wahai pembaca “awam” (dan saya jelas termasuk pembaca “awam” dalam soal-soal matematika dan logika)! Komik ini sungguh enak dibaca (jika Anda cukup lancar berbahasa Inggris, maksud saya, apa boleh buat –komik ini belum diterjemah ke bahasa Indonesia).

Ada dua cerita utama dalam komik ini. Pertama,

cerita perjalanan pemikiran Bertrand Russel, salah seorang filsuf terbesar Barat di awal abad ke-20. Kedua, cerita perjalanan para pengarang komik ini membentuk cerita komik tentang Russel dan pemikirannya tersebut. Di sepanjang komik, kedua cerita ini saling sapa dan berdialog.

Komik ini dibuka dengan adegan percakapan kedua pengarang komik ini saat pertama mereka berjumpa. Apostolos dan timnya, Alecos Papadatos dan Annie Di Donna plus Anne, sudah di tengah pembuatan komik ini saat berjumpa Christos. Apostolos sejak dini mengangkat isu kesalahpahaman umum orang terhadap novel grafis ini saat diutarakan pertama kali idenya: bahwa ini semacam buku pengantar untuk filsafat seperti seri For Beginner, yang dibuat dalam bentuk novel grafis.

Apostolos dkk. meniatkan novel grafis ini sebagai sebuah cerita, kisah tragedi, novel grafis sepenuh-penuhnya, dengan keunikannya “hanyalah” ini: tokoh-tokohnya adalah para matematikawan, ahli logika, filsuf, dalam kisah pencarian kebenaran yang dramatis. Dengan kata lain, ini bukan sejarah pemikiran, tapi cerita yang disarikan dari sejarah pemikiran. Malah, terang-terangan diakui Apostolos, pilihannya untuk mengabaikan beberapa fakta sejarah (seperti, fakta bahwa Russel punya kakak) demi kepaduan cerita.

(Silakan ingat pepatah bijak itu: seni adalah dusta untuk mengungkapkan kebenaran.)

Apostolos dkk. memilih awal cerita Russel dalam komik ini adalah ceramah Russel di sebuah universitas di AS, tiga hari setelah pendudukan Jerman/Hitler atas Polandia, pada 1 September 1939. Detik-detik menuju Perang Dunia ke-2 sudah dimulai. Russel tiba di kampus itu, disambut demonstrasi antiperang. Intinya, para demonstran ingin agar AS tak terlibat perang di Eropa itu. Mereka berharap, Russel mendukung mereka, karena pada Perang Dunia ke-1, Russel berkampanye antiperang, sampai ditahan segala akibat sikapnya itu.

Sesuai jadual, ceramah Russel tersebut bertajuk “Role of Logic in Human Affairs“. Setelah dihadang para pendemo, Russel membujuk mereka untuk menyimak ceramahnya, untuk bersama mencari jawab –dengan Logika– apakah mereka akan mendukung AS ikut perang atau tidak.

Dan, ceramah itulah yang jadi kerangka utama jalannya kisah hidup Russel, sejak ia muda dan bagaimana ia pertama kali tertarik pada ilmu logika, hingga saat Russel harus berhadapan dengan kegagalannya mencipta sistem logika sempurna bagi matematika, hingga pilihan perang yang sedang mereka hadapi saat itu. Bagi Russel, usulannya jelas: untuk mengerahkan penalaran rasional demi menjawab pertanyaan penting saat itu (mendukung perang atau tidak?), mereka harus kembali ke pertanyaan dasar, apakah logika?

Russel memilih cara unik untuk menjawab pertanyaan dasar itu: menceritakan kisah hidup seorang pemuja teguh logika, yakni dirinya sendiri. Dengan pendekatan itu, Russel (atau, komik tentang Russel ini) menempatkan langsung Logika dalam persoalan Hidup Manusia. Persoalan-persoalan abstrak yang terbit dari ketakpuasan Russel muda atas doktrin Euclidian dalam Geometri yang telah berusia ribuan tahun, jadi terasa penuh emosi dan pertarungan batin.

Komik ini memberi kita pengalaman mencicipi topan badai pikiran yang berkecamuk di benak para pemikir besar itu. Kita pun diajak melihat jatuh-bangun banyak raksasa matematika abad ke-20 itu: patah hati Ferge ketika bangun pemikirannya runtuh oleh paradoks Russel; patah hati Hillbert saat proyek besarnya pada 1900 diruntuhkan Gödel pada 1931; ketakberdayaan Gödel melihat kekerasan irasional di depan matanya (kebangkitan Nazi dan perburuan Yahudi di Eropa); kematian Schlick, pimpinan informal Lingkaran Vienna yang sangat percaya “Pandangan Dunia Sains”, oleh mantan mahasiswa simpatisan Nazi. Patah hatinya Russel sendiri, menghadapi kegagalan risalahnya, rumahtangganya, dan keruntuhan argumennya oleh muridnya yang cemerlang, Ludwig Wittgenstein.

Kita pun sedikit paham bahwa segala persoalan abstrak itu bisa punya akibat fatal: kegilaan, kematian, depresi berkepanjangan, rusaknya hubungan pribadi, dsb. Risiko-risiko itu diambil para matematikawan dan filsuf dalam komik ini karena yang dipertaruhkan adalah kemampuan manusia mencapai Kebenaran.

Dengan segala kekurangan mereka, para matematikawan dan filsuf itu adalah para mujahid Kebenaran. Jihad mereka tak selamanya berhasil. Jihad menegakkan rasionalitas dalam mencari kebenaran seringkali makan korban: para mujahidnya bisa terjungkal ke dalam kegilaan, atau irasionalitas lainnya.

Bagi yang membaca ini dengan penuh prasangka terhadap Rasionalitas, yang beranggapan bahwa “kebenaran tak mungkin dicapai akal manusia”, bisa jadi akan merasa menemukan pembenaran atas prasangka mereka itu. “Tuh, kan, begitulah kalau manusia dengan sombong menganggap bisa mencapai kebenaran sendiri dengan akal!”

Dengan kata lain, segala duka yang mengiringi pencarian Kebenaran oleh para matematikawan dan filsuf itu bisa saja dibaca dengan sinis sebagai “bukti” sebuah kesia-siaan.

Tapi, jika benar bahwa pencarian kebenaran dengan pemberdayaan akal adalah sebuah kesia-siaan, lalu untuk apa manusia memiliki akal? Jika dijawab, akal ada sebagai “godaan setan”, maka yang menjawab itu memandang akal bukan sebagai karunia, tapi sebagai sebuah cacat yang harus disingkirkan. Tidakkah ini sebentuk kesia-siaan juga –upaya menihilkan sesuatu yang senyatanya ada dalam diri manusia sendiri?

Saya menganggap bahwa risiko kegilaan para mujahid rasionalitas itu adalah harga yang harus dibayar dalam sebuah upaya pencarian Kebenaran. Mereka, para matematikawan dan filsuf itu, berjalan jauh ke tapal batas Akal.

Mereka menatap horor di tapal batas Akal itu. Sementara kebanyakan kita, seringkali, hanya tinggal menikmati hasil perjalanan para mujahid rasionalitas itu.

Contohnya sangat nyata. Salah satunya adalah ini: Penalaran Russel + Whitehead memungkinkan penalaran Gödel; penalaran Gödel, memungkinkan penalaran Alan Turing; penalaran Turing melahirkan prinsip dasar bagi komputer. Dan lihat, apa pengaruh komputer dalam keseharian kita sekarang?

Komik ini bisa membantu kita menghargai proses

pencarian Kebenaran melalui pengerahan penalaran dan Akal manusia. ***

(Hikmat D.)

Laman Berikutnya »